
SUKOHARJO (20/9/2026)— Upaya menjadikan Kartasura sebagai kawasan yang semakin dikenal melalui kekuatan budaya dan kreativitas terus dikembangkan. Salah satunya melalui Kartasura Ethno Carnival, sebuah event kreatif yang menjadi bagian dari rangkaian Ambal Warsa Kartasura ke-346 dan akan digelar pada 11 Oktober 2026.
Menariknya, Kartasura Ethno Carnival tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga membawa gagasan ekonomi sirkular dan ekonomi digital. Panitia Ambal Warsa Kartasura menggelar workshop pembuatan kostum karnival, make up arts, dan koreografi sebagai persiapan menuju event tersebut.
Kaprodi Bisnis Digital Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta, Asep Maulana Rohimat, menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan Kartasura Ethno Carnival. Menurutnya, event kreatif semacam ini memiliki potensi besar untuk memperkenalkan Kartasura kepada publik yang lebih luas melalui kekuatan konten digital.
“Kartasura memiliki sejarah dan kekayaan budaya yang sangat kuat. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut dikemas menjadi event kreatif yang menarik, kemudian dibawa ke ruang digital sehingga Kartasura semakin dikenal dan viral secara positif,” ujar Asep.
Menurut Asep, di era ekonomi digital, sebuah event tidak hanya dinilai dari jumlah orang yang hadir secara langsung. Jejak digital, jumlah konten yang dihasilkan, interaksi media sosial, dan kemampuan sebuah event membangun percakapan publik juga menjadi bagian penting dari nilai ekonomi dan promosi sebuah kegiatan.
Karena itu, Kartasura Ethno Carnival dapat menjadi momentum untuk membangun digital branding Kartasura. Kostum yang unik, koreografi, make up arts, cerita sejarah, serta visual kawasan Kartasura dapat menjadi bahan konten yang menarik untuk berbagai platform digital.
“Kita ingin Kartasura tidak hanya ramai ketika event berlangsung, tetapi juga ramai di ruang digital. Satu kostum yang unik bisa menjadi konten, satu pertunjukan bisa menjadi video pendek, satu cerita sejarah bisa menjadi digital storytelling. Dari sana akan muncul efek berantai terhadap promosi Kartasura,” jelasnya.
Salah satu konsep yang menjadi perhatian dalam Kartasura Ethno Carnival adalah penggunaan barang bekas sebagai material pembuatan kostum karnival. Peserta didorong untuk mengolah material yang sudah tidak terpakai menjadi karya kreatif yang memiliki nilai estetika dan budaya. Konsep ini digagas langsung oleh Dekan FEBI Prof. Dr. M. Rahmawan Arifin, M.Si yang sekaligus ketua panitia Ambal Warso ke 346.
Konsep tersebut memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular, yakni memperpanjang nilai guna material melalui penggunaan kembali dan pengolahan kreatif. Bagi Prof. Ivan, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak selalu harus dimulai dengan modal besar.
“Justru di sinilah menariknya. Barang bekas yang secara ekonomi dianggap sudah tidak bernilai dapat diubah menjadi kostum yang memiliki nilai seni, kemudian menjadi atraksi budaya, lalu menjadi konten digital. Dari satu material bisa muncul beberapa lapis nilai ekonomi,” ungkapnya.
Menurutnya, proses tersebut memperlihatkan hubungan yang kuat antara ekonomi sirkular, ekonomi kreatif, dan bisnis digital. Kreativitas masyarakat menjadi sumber nilai, sementara teknologi digital menjadi sarana untuk memperluas jangkauan pasar dan publikasi.
Workshop Kartasura Ethno Carnival juga dihadiri para pegiat seni dan budaya Kartasura, di antaranya Tri Wahyudi, MH. Mulyani, S.Pd., Marsudi Widodo, Jakanan Unus Prayitno, dan Manik Amartani Gusti El, serta sejumlah tokoh lainnya.
Kartasura Ethno Carnival akan menjadi ruang kompetisi kreativitas melalui karya kostum, make up arts, dan koreografi. Namun lebih dari itu, event tersebut diharapkan menjadi mesin pencipta konten kreatif yang dapat memperkenalkan Kartasura kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Asep menegaskan bahwa viralitas yang dibangun bukan sekadar mengejar popularitas, tetapi bagaimana popularitas tersebut dapat memberikan dampak bagi masyarakat.
“Kalau Kartasura viral karena kreativitas, maka yang kita bangun adalah viralitas yang produktif. Orang datang melihat event, kemudian mengenal sejarahnya, membeli produk UMKM, mengunjungi destinasi, membuat konten, dan membagikannya kembali. Di situlah event budaya dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital,” tutur Asep.
Ia berharap Kartasura Ethno Carnival dapat menjadi agenda kreatif yang terus dikembangkan dan memiliki identitas kuat. Dengan demikian, Kartasura tidak hanya dikenal karena sejarahnya, tetapi juga karena kreativitas masyarakatnya.
Pada akhirnya, Kartasura Ethno Carnival diharapkan menjadi titik temu antara heritage, creativity, circular economy, dan digital economy.
Dari sejarah Kartasura, lahir kreativitas. Dari kreativitas, lahir konten. Dari konten, Kartasura semakin dikenal. Dan dari popularitas tersebut, terbuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Kartasura Tak Hanya Punya Sejarah: Ethno Carnival Disiapkan Menjadi Magnet Ekonomi Digital
3 hari yang lalu - UmumHead of OJK Solo Delivers Digital Business Literacy to 295 Students at UIN Raden Mas Said Surakarta
4 pekan yang lalu - UmumThe “Trap of Convenience”: UIN Surakarta Lecturer Reveals AI’s Privacy Paradox
1 bulan yang lalu - Umum